jump to navigation

Kilas Balik PERSIB ‘Maung Bandung’ July 25, 2007

Posted by imambahtiar in PERSIB BANDUNG.
7 comments

hulu.jpgSebelum bernama Persib, di Kota Bandung berdiri Bandoeng Inlandsche Voetball Bond ( BIVB ) pada sekitar tahun 1923. BIVB ini merupakan salah satu organisasi perjuangan kaum nasionalis. Tercatat sebagai Ketua Umum BIVB adalah Mr. Syamsudin yang kemudian diteruskan oleh putra pejuang wanita Dewi Sartika, yakni R. Atot.

Atot ini pulalah yang tercatat sebagai Komisaris daerah Jawa Barat yang pertama. BIVB memanfaatkan lapangan Tegallega didepan tribun pacuan kuda. Tim BIVB ini beberapa kali mengadakan pertandingan diluar kota seperti Yogyakarta dan Jatinegara Jakarta.

BIVB kemudian menghilang dan muncul dua perkumpulan lain yang juga diwarnai nasionalisme Indonesia yakni Persatuan Sepak Bola Indonesia Bandung ( PSIB ) dan National Voetball Bond ( NVB ).

Pada tanggal 14 Maret 1933, kedua perkumpulan itu sepakat melakukan fusi dan lahirlah perkumpulan yang bernama Persib yang kemudian memilih Anwar St. Pamoentjak sebagai Ketua Umum. Klub- klub yang bergabung kedalam Persib adalah SIAP, Soenda, Singgalang, Diana,Matahari, OVU, RAN, HBOM, JOP, MALTA, dan Merapi.

Di Bandung pun saat itu pun sudah berdiri perkumpulan sepak bola yang dimotori oleh orang- orang Belanda yakni Voetbal Bond Bandung & Omstreken ( VBBO). Perkumpulan ini kerap memandang rendah Persib. Seolah- olah Persib merupakan perkumpulan “ kelas dua “. VBBO sering mengejek Persib. Maklumlah pertandingan- pertandingan yang dilangsungkan oleh Persib dilakukan dipinggiran Bandung—ketika itu—seperti Tegallega dan Ciroyom.

Masyarakat pun ketika itu lebih suka menyaksikan pertandingan yang digelar VBBO. Lokasi pertandingan memang didalam Kota Bandung dan tentu dianggap lebih bergengsi, yaitu dua lapangan dipusat kota, UNI dan SIDOLIG.

Persib memenangkan “ perang dingin “ dan menjadi perkumpulan sepakbola satu- satunya bagi masyarakat Bandung dan sekitarnya.Klub- klub yang tadinya bernaung dibawah VBBO seperti UNU dan SIDOLIG pun bergabung dengan Persib. Bahkan VBBO kemudian menyerahkan pula lapangan yang biasa mereka pergunakan untuk bertanding yakni Lapangan UNI, Lapangan SIDOLIG ( kini Stadion Persib ), dan Lapangan SPARTA ( kini Stadion Siliwangi ). Situasi ini tentu saja mengukuhkan eksistensi Persib di Bandung.

Ketika Indonesia jatuh ke tangan Jepang. Kegiatan persepakbolaan yang dinaungi organisasi lam dihentikan dan organisasinya dibredel. Hal ini tidak hanya terjadi di Bandung melainkan juga diseluruh tanah air. Dengan sendirinya Persib mengalami masa vakum. Apalagi Pemerintah Kolonial Jepang pun mendirikan perkumpulan baru yang menaungi kegiatan olahraga ketika itu yakni Rengo Tai Iku Kai.

Tapi sebagai organisasi bernapaskan perjuangan, Persib tidak takluk begitu saja pada keinginan Jepang. Memang nama Persib secara resmi berganti dengan nama yang berbahasa Jepang tadi. Tapi semangat juang, tujuan dan misi Persib sebagai sarana perjuangan tidak berubah sedikitpun.

Pada masa Revolusi Fisik, setelah Indonesia merdeka, Persib kembali menunjukkan eksistensinya. Situasi dan kondisi saat itu memaksa Persib untuk tidak hanya eksis di Bandung. Melainkan tersebar diberbagai kota, sehingga ada Persib di Tasikmalaya, Persib di Sumedang, dan Persib di Yogyakarta.

Pada masa itu prajurit- prajurit Siliwangi hijrah ke ibukota perjuangan Yogyakarta. Baru tahun 1948 Persib kembali berdiri di Bandung, kota kelahiran yang kemudian membesarkannya.
Rongrongan Belanda kembali datang, VBBO diupayakan hidup lagi oleh Belanda ( NICA ) meski dengan nama yang berbahasa Indonesia Persib sebagai bagian dari kekuatan perjuangan nasional tentu saja dengan sekuat tenaga berusaha menggagalkan upaya tersebut. Pada masa pendudukan NICA tersebut, Persib didirikan kembali atas usaha antara lain, dokter Musa, Munadi, H. Alexa, Rd. Sugeng dengan Ketua Munadi.

Perjuangan Persib rupanya berhasil, sehingga di Bandung hanya ada satu perkumpulan sepak bola yakni Persib yang dilandasi semangat nasionalisme. Untuk kepentingan pengelolaan organisasi, decade 1950- an ini pun mencatat kejadian penting. Pada periode 1953- 1957 itulah Persib mengakhiri masa pindah- pindah secretariat. Walikota Bandung saat itu R. Enoch, membangunkan Sekretariat Persib di Cilentah.

Awal Persib memiliki gedung yang kini berada di Jalan Gurame, adalah upaya R. Soendoro, seorang overste replubiken yang baru keluar dari LP Kebonwaru pada tahun 1949. Pada waktu itu, melalui kepengurusan yang dipimpinnya, Soendoro menghadap kepada R. Enoch yang kebetulan kawan baiknya. Dari hasil pembicaraan, Walikota mendukung dan memberikan sebidang tanah di Jalan Gurame sekarang ini.

Pada saat itu, karena kondisi keuangan yang memprihatinkan, Persib tidak memiliki dana untuk membangun gedung, Soendoro kembali menemui Walikota dan menyatakan, “ Taneuh puguh deui, tapi rapat ditiungan ku langit biru,” kata Soendoro.
Akhirnya Enoch juga membantu membangun gedung yang kemudian mengalami dua kali renovasi. Kiprah Soendoro sendiri didunia sepak bola diteruskan putranya, antara lain, Soenarto, Soenaryono, Soenarhadi, Risnandar, dan Giantoro serta cucunya Hari Susanto.

Dalam menjalankan roda organisasi beberapa nama yang juga berperan dalam berputarnya roda organisasi Persib adalah Mang Andun dan Mang Andi. Kedua kakak beradik ini adalah orang lapangan Persib. Tugas keduanya, sekarang ini dilanjutkan oleh putra dan menantunya, Endang dan Ayi sejak 90-an. Selain juga staf administrasi Turahman.

Renovasi pertama dilakukan pada kepemimpinan Kol. CPM Adella ( 1953- 1963 ). Kini sekretariat Persib di Jalan Gurame itu sudah cukup representatif, apalagi setelah Ketua Umum H. Wahyu Hamijaya ( 1994- 1998 ) merenovasi gedung tersebut sehingga menjadi kantor yang memadai untuk mewadahi berbagai kegiatan kesekretariatan Persib.

Kemampuan Persib menjaga nilai- nilai dan tradisinya serta menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman tentu tidak lepas dari figur Ketua Umum bukan hanya figur yang berkemampuan mengelola organisasi dalam artian agar organisasi itu terus hidup, melainkan juga figur yang mampu menggali potensi dan mengakomodasikan kekuatan yang ada, sehingga kiprah Persib dalam kancah sepakbola nasional terus berlangsung lewat berbagai karya Persib. 

( www.persib-bandung.or.id)

Advertisements

Zaenal Arif Masih Bungkam July 20, 2007

Posted by imambahtiar in PERSIB BANDUNG.
1 comment so far

logo1.jpg

Zaenal Arif Masih Bungkam

Soal Penyebab Dirinya Lakukan Tindakan Indisipliner

BANDUNG
Setelah sempat sulit dihubungi dan tidak diketahui keberadaannya, Zaenal Arif akhirnya muncul dan memberikan keterangan pers di Wisma Dharma Bhakti Jln. Bali Bandung, Kamis (19/7). Namun, Arif tetap bungkam mengenai sebab musabab dirinya terlambat masuk hotel Senin (16/7) malam yang berbuntut pencoretan dirinya dari timnas.

“Yang jelas saya akui kalau saya salah karena telat pulang, tapi saya tidak bisa jelaskan kenapa saya bisa sampai telat. Yang tahu hanya saya dan keluarga dan itu bukan untuk konsumsi publik,” ujar Arif.

Dikatakan Arif, keterlambatannya pulang ke kamar tidak ada hubungannya dengan tidak diturunkannya dia di pertandingan melawan Arab Saudi. Tanpa menjelaskan lebih lanjut, Arif menyatakan bahwa itu adalah urusan pribadinya.

“Ini bukan soal main, yang jelas saya terlambat dan saya kelewat batas. Saya terima keputusan pelatih karena itu adalah konsekuensi dari apa yang telah saya lakukan. Saya akan bertanggung jawab,” ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, Arif juga menyampaikan permohonan maafnya kepada semua pecinta bola di tanah air yang telah kecewa dengan dirinya. Arif pun mengaku sangat menyesal dengan apa yang telah dilakukannya meski keputusan sudah telanjur dibuat.

“Waktu kejadian saya berada dalam keadaan yang tidak stabil. Kaweur kata orang Sunda mah. Tapi saya coba untuk tegar dan saya sangat menghargai keputusan pelatih, mungkin itu yang terbaik,” tuturnya.

Pertama kali mendengar keputusan pencoretan, Arif mengaku shock dan sangat kaget, sebab dia merasa kesalahannya wajar dan tidak menyangka bahwa sanksinya akan seberat itu. “Saya kira akan didenda. Saya juga kaget makanya selama dua hari ini saya mencoba untuk menenangkan diri. Bukan maksud saya menghindari teman-teman, tapi pikiran saya belum stabil,” katanya.

Disinggung mengenai skorsing yang akan dikeluarkan PSSI, Arif enggan berkomentar banyak, namun Arif mengaku siap menerima sanksi apa pun. “Saya belum berpikir apa yang akan saya lakukan jika PSSI menskors saya. Yang jelas sepak bola adalah hidup saya,” katanya.

Arif juga mengharapkan Persib Bandung sebagai klub yang dihuninya mau membantunya mengatasi masalah ini. Terutama agar kariernya di sepak bola bisa terus berlanjut. “Saya pribadi ingin secepatnya kembali latihan bersama teman-teman di Persib. Life must go on,” ungkapnya.

Belum tentukan sanksi

Sementara itu Manajer Persib, Yossi Irianto mengatakan bahwa hingga saat ini dirinya belum menentukan sikap terhadap Zaenal Arif. Yang jelas Yossi mengharapkan bahwa PSSI akan meninjau ulang keputusan mereka agar sanksi yang akan dijatuhkan tidak berdampak kepada klub Persib.

“Kemarin sudah sampaikan permohonan maaf secara resmi atas nama klub, dan tadi saya sudah bicara lagi dengan manajer timnas. Saya ajukan dua poin pembelaan. Yang pertama Arif tidur di hotel pada Senin malam dan jam 2 sudah ada di hotel. Kedua dia sedang kalut sehingga tidak melakukan komunikasi. Ini sebagai tambahan data dan mudah-mudahan bisa menjadi poin untuk Arif,” ujarnya.

Sementara Pelatih Persib Arcan Iurie mengatakan, dirinya masih belum berani mengikutsertakan Arif pada latihan Persib. Sebab dirinya tidak ingin bermasalah dengan PSSI. “Saya minta PSSI cepat kasih keputusan. Kalau seperti ini saya pusing, Persib akan kehilangan dua pemain berkualitas di putaran dua nanti. Saya tidak berani ajak dia latihan, mungkin hanya latihan individual saja dan saya kasih dia programnya,” katanya.

Iurie juga menyayangkan sikap Ivan Kolev yang langsung melakukan pencoretan yang berbuntut skorsing. “Kenapa tidak dikembalikan dari dulu. Persib sudah kasih maksimal buat timnas, dia minta pemain saya kasih, tapi jadinya seperti ini. Dua-duanya jadi tidak bisa main di putaran dua,” ungkapnya.  [A-157]